Pohon Besar dan Anak Polos

Awal dari segala perjanjian, pembuktian untuk masa depan.
Perjanjian untuk dunia yang bergerak tidak tentu kemana.
Tulisan ini adalah awal dari dan dimana aku terlihat sekarang.
Bagaimana aku sekarang, karena awal cerita ini.

Tentang sebuah cerita seorang anak polos terhadap pohon besar tua penuh buah;
Terlihat megah dan pantas dipuja bukan karena buahnya atau besarnya,
karena dia hanya sebatas pohon yang diam tak bicara.
Diam tak bicara seperti sifat-sifat tuhan dunia.
Sampai sudah, berbicara panjang lebar tentang segala resah maupun tak berguna.
Hei kau pohon besar! Kau seperti tuhan, tak menjawab seperti masa depan.
Biar kutulis isi hatiku di pohon ini,
di kulit yang penuh rongga seakan terdengar mengeluarkan desah riuh kecil.
itukah bahasamu? mungkin kumbang dan semut dapat mengertinya.

Kutinggalkan pohon itu bukan karena dia tak menjawab ceritaku,
karena aku yang tak bisa berhenti bicara ketika dia meneduhkanku.
Biarkan saja, aku tak bisa menikmati lagi keteduhanmu.
Aku masih bisa membuat teduhanku,
dengan caraku, kau megah tak berasa, tidak pula merindukanku.
Kau berdiri tanpa bisa berkata,
kau diam tanpa melawan.

Pohon kau adalah aku ketika tua.
Karena kau telah mendengarku saat ini.
Mungkin kau masa depanku?

Comments

Archive

Contact Form

Send